Jumat, 30 November 2018

Q&A ARISAN BUKU DENGAN BUNDA KIKANSAKTI



Kenapa harus sama bunda Kikansakti?
Karena orangnya baik hati dan tidak sombong, rajin mengaji, rajin menabung, disayangi suami dan anak #ehh

Apa syarat ikut arisannya?

Isi form pendaftaran, Amanah. Udah gitu aja
Ga diminta surat N1, N2 N4 kok
Ini mau arisan buku atau mau nikah

Berapa lama arisannya?
Kalau kamu termasuk orang yang sabar yang bersedia menunggu sampai 10 purnama, boleh ikut arisan 10 bulan.
Tapi kalau menurut kamu 10 bulan terlalu lama bisa ikut yang 5 bulan aja.
Tapi kalau ga bisa nunggu juga..
Naaainiiiii...berarti kamu adalah #antiarisanclub alias #timcash garis keras 😎😎

Berapa iuran arisan tiap bulannya?
Ini tergantung buku mana yang mau dipinang ya Buk, karena beda buku beda iuran arisannya #yaiyalahmeri
Misalnya nih mau ikut arisan halo balita 10 bulan, iuran tiap bulannya 235ribu
Kalau mau ikut Funtastic Learning 140ribu. Mau info lebih lengkap tentang harga arisannya cusss japri. Insyaallah ga liat contekan harga lagi karena udah hapal 😁

Skema arisannya gimana?
Nanti peserta arisan didaftarkan ke admin tim STAR, lalu nanti setelah ada kelompok arisannya peserta akan di add ke grup arisan di WA.
Nhaaa...arisannya ini dirandom tiap bulan ya buibu. Kenapa tiap bulan?
Biar tiap bulan deg2an terus 😅😅

Amankah ikut arisan bukunya?
Ini mungkin pertanyaan yang sering muncul saat ingin ikut arisan online. Aku dimana, dia dimana, ketemu cuma lewat chat WA.
Btw saya tergabung dalam tim STAR. Taukah siapa bos besar tim STAR?
Itu lho yang tulisannya kemaren ini disebut2 tulisannya ibu Kemenkeu, tak lain tak bukan mba Jayaning Hartami.
Ya Allah...aku bangga banget jadi cicitmu mba Tam 😂
Tim STAR sampai sekarang sudah punya 429 kelompok arisan buku lo buibuuu. Itung deh tuh udah berapa orang peserta arisannya kalau setiap kelompok ada 10 orang 😱😱.
Dannnn...tim STAR juga merupakan salah satu tim terbaik yang MDS punya.
Jadi ikut arisan buku sama bunda Kikansakti yang merupakan Book Advisor tim STAR insyaAllah AMAN


"Sama mba Meri sih aku percaya. Tapi gimana nanti dengan peserta yang lain mba, abis nerima trus menghilang?"
Jujurly,,saya beberapakali mendapat pertanyaan seperti ini dari peserta arisan. kita memang tidak tahu orang lain seperti apa, tapi saya selalu berdoa supaya selalu diberi peserta yang amanah. Apalagi ini arisan buku anak, saya yakin dan percaya orang tua tidak akan memberikan sesuatu yang tidak berkah untuk anak-anaknya 💜

Kalau beli buku lewat arisan free ongkir ga?

Selagi kamu tinggal di Republik Indonesia, mau diujung paling barat, atau ujung paling timur, mendaki gunung, lewati lembah, FREE ONGKIR
kalau seandainya ngirim halo balita yang 18 kg itu dikenakan ongkir bisa kena berapa cobak 😱?

Kalau udah ikut arisan Halo Balita boleh ikut arisan Funtastic Learning ga?

Kalau ini mahh boleh banget kakaaaa 😁
Sekalian sama wow amazing series, confidence in science, puppet book, sabaQu, ensiklopedi bocah muslim juga boleh 😅😅

Jadi mau ikut arisan buku yang mana sama bunda Kikansakti buk?



Family Camp - Gunung Papandayan

"Yakin kita bawa anak-anak ke sana?"

Begitulah pertanyaan yang berulang kali saya tanyakan ke suami sebelum kami berangkat.

"InsyaAllah..banyak kok yang bawa anak-anak ke sana. Yang penting kita berangkat dulu, dan berharap cuaca bagus. Kalau cuaca tidak mendukung, paling nanti kita camping di bawah aja, ga usah naik".

Akhirnya dengan berbekal youtube, dan berbagai review perjalanan orang yang yang sudah ke sana, saya pun meyakinkan diri untuk berangkat.

Minggu, 18 November 2018
Kami berangkat dari Depok jam 6.30 pagi. Meleset sedikit dari rencana awal yaitu jam 6.00. jangan tanya gimana hebohnya kami pagi itu. Pernah nonton film home alone yang sekeluarga mau pergi liburan kan?
Nah..begitulah hebohnya kami kira-kira. Padahal yang berangkat cuma berempat.
Ya begitu deh kalau jalan bawa anak-anak, ada aja yang bikin molor 😂. Yang pas beberes Sakti ga mau ditinggal lah, atau Kikan yang mendadak kebelet lah. Belum lagi adegan bolak balik emak bapaknya buat ngecek ini itu. Baik itu ngecek perlengkapan, atau ngecek kondisi rumah sebelum ditinggal. Untung ga pake adegan anak yang yang ketinggalan sendirian di rumah 😁.
Ga kebayang aja kalau Kikan atau sakti sampai ketinggalan, bakal keluar di berita Line Today dengan judul "ANAK KETINGGALAN DI RUMAH SAAT ORANG TUA PERGI MENDAKI"

Lalu 6 bulan berikutnya keluar lagi berita "MASIH INGAT DENGAN ANAK YANG DITINGGAL ORANG TUANYA MENDAKI? BEGINILAH KONDISINYA SEKARANG"

Errrr...kagak lucu!!

lanjut..

Pas mobil sudah jalan pun kami masih aja mengingat-ingat barang bawaan takut ada yang ketinggalan
"Kaus kaki tambahan buat anak-anak tadi bunda taruh di atas meja udah yan?"
"Udah Bun"

Lalu hening lagi

"Segala charger tadi taruh dimana Bun?"
"Ini dalam tas bunda yan".

Lalu hening lagi

"Bundaaa...buku ensiklopedi bocah muslim uni jadi kan dibawa?"
"Jadi kok naak"
Yang ini serius bukan iklan karena anaknya emang nanya gitu 😁

Seandainya sakti udah bisa ngomong, mungkin dia juga bakalan ikut nanya
"Diapers adek udah Bun? Tisu basah?"

Setelah masing-masing sibuk mengingat barang bawaan dan memastikan tidak ada yang ketinggalan akhirnya kami pun mulai menikmati perjalanan.

Perjalanan menuju Garut memakan waktu 5 jam, sampai di Garut kota kami istirahat dan membeli perbekalan untuk logistik mendaki kemudian melanjutkan perjalanan ke Papandayan.
Kami sampai di pos 3 gunung Papandayan jam 16.15. Pos 3 ini di area parkir. Disini seluruh orang yang mau camping atau yang trekking menuju pondok saladah atau ghoberhood harus registrasi terlebih dahulu.

Karena sudah sore, kami memutuskan untuk camping dulu semalam di Camp David. Nahh..Camp david ini adalah area penginapan yang sudah dibikin banyak cottage di sana. Jadi yang mau merasakan suasana pegunungan tapi ga mau ribet macam kami, bisa cusss sewa cottagenya. Fasilitas lengkap! Dan harganga per malam lumayan menguras isi kantong (kami) wkwkwkw
Dan buat yang mau camping tapi ga mau ribet seperti kami bawa-bawa segala macam, juga bisa glamping (glamour camping) di sana sewa tenda beserta kasur dan selimut 😹
Dan setelah jalan mencari lokasi, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di......
Dekat toilet pemirsaaaaaah 😂😂
Dekat toilet memang jadi lokasi favorit saya. Saat camping sebelumnya di Ranca Upas pun kami mendirikan tenda tidak jauh dari toilet. Ya mau gimana lagi. Namanya emak-emak yang gampang beser ga mau idupnya jauh-jauh dari toilet. Kebelet dikit tinggal ngesot ke toilet.

Malam pertama, sakti sedikit rewel setiap diajak masuk tenda. Mungkin karena penerangan yang ala kadarnya. Dan setelah dibujuk dengan berbagai jurus emak bapake akhirnya dia bisa tidur dengan aman sampai pagi. Alhamdulillah

19 November, 2018
Besok paginya setelah sarapan kami mulai beberes, packing lagi, lipat tenda lagi. Dan Porter yang jasanya kami pakai sudah datang.
Iyeee... Kami pake jasa porter untuk membawa beberapa barang kami
Hayati dan zainudin cari aman gess.
Saya tidak sanggup berdua aja sama suami membawa bawaan 4 orang. Apalagi sambil jagain anak 5 tahun dan gendong bayi 14 bulan.
Jadi barang yang dibawa oleh porter adalah 1 carrier 65 liter yang isinya segala perlengkapan camping kami, tenda dan matras.
Yang saya bawa cuma carrier 32 liter yang isinya bekal kami di jalan seperti makanan, air minum, beberapa baju ganti anak-anak, piring, gelas, dan beberapa barang lain yang tidak bisa masuk ke carrier yang dibawa porter.

Sakti gimana sakti? 😁
Ini termasuk PR kami dari awal bagaiman cara membawa sakti trekking, karena ga mungkin ni bayi disuruh jalan sendiri 😂. Jalan di tempat yang ga rata aja doi masih oleng.
Sehari-hari Sakti memang saya gendong dengan gendongan SSC. Tapi untuk trekking ke gunung..hmmm..rasanya tidak mungkin. Karena secara posisi bayi langsung nempel ke badan penggendong. Tidak ada ruang udaranya yang dijamin bakal gerah banget buat keduanya.
Dan tiba-tiba ingat kalau ibu bumi @ranti pujantari punya baby carrier waktu ngajak bumi main dulu ke kebon jeruk #masihingatkahibumi? Dan akhirnya pinjem deh hehehe..makasih ibu, Abah, dan bumi 😘

Yang gendong sakti siapa?
Sudah tentu Yandanya 😂
Setrong ya pak 😘

Jam 9 pagi setelah selesai beberes, mengecek segala perlengkapan, kamipun siap-siap untuk berangkat. Registrasi terlebih dahulu di pos 3. Barang dibawa porter dengan motor. Motor yang bisa naik ke atas pun bukan sembarang motor.
Estimasi sampai ke lokasi camping kami di ghoberhood sekitar 3 jam perjalanan.
Dengan mengucap bismillah, kami pun memulai perjalanan. Berdoa semoga perjalanan kami lancar dan tidak ada masalah yang berarti.
 Di perjalanan kami beristirahat dua kali yaitu di pos 5 dan pos 7.

Kikan gimana Kikan?
Alhamdulillah anaknya bersemangat sekali dan sama sekali tidak mengeluh capek. Padahal emaknya udah ngos-ngosan. Saat ditanya "uni capek ga?"
Dia selalu menjawab "uni ga capek, kan besok udah mau 5 tahun".
MasyaAllah nakk.. bunda sungguh terharu dengan semangatmu 😭
Medan perjalanan sampai ke pos 7 cenderung menanjak dan berbatu-batu.
Karena kawah gunung Papandayan ini juga ada yang letaknya di bawah, jadi bisa langsung foto-foto dengan latar asap yang keluar dari kawah gunung. Keceeee pokoknya 😍😍
Setelah istirahat di pos 7 dan makan beberapa potong semangka, kami melanjutkan perjalanan. Jadi dari pos 7 ini jalan bercabang 2. Ke kiri jalan menanjak bisa langsung ke hutan mati, ke kanan menuju lokasi camping ke ghoberhood dan pondok saladah.
Jadi kami ambil jalan ke kanan. Medan berikutnya adalah pinggir tebing dan masuk ke dalam hutan.

Pas masuk ke hutan ini naluri parno saya tiba-tiba keluar. Apalagi pas ketemu jalan bercabang 3 dan tidak ada markahnya. Di tambah lagi tidak ada orang lain selain kami berempat
"Serius yan, kita ga salah jalan" tanya saya saat suami mengambil jalur lurus"
"InsyaAllah Bun" jawabnya, yang membuat saya rada kurang yakin
Sambil terus berjalan di dalam hutan dengan jalan yang sedikit menanjak saya terus berdoa bahwa jalan yang kami tempuh adalah jalan yang benar dan berusaha membuang semua pikiran jelek yang ada dalam otak saya.
Pas keluar dari hutan, tiba-tiba ada markah jalan bertuliskan 'ghoberhooh' dengan arah panah.
Alhamdulillah...saking senangnya langsung saya peluk itu markah jalan. Kalau ga takut suami cemburu itu markah mungkin udah saya cium-cium saking senangnya 😂
Langsung buyar semua pikiran jelek yang sempat mampir ke otak, dan berganti dengan semangat melanjutkan perjalanan 😍

Tidak jauh dari lokasi markah jalan, akhirnya kami bertemu pendaki lain, 2 orang wanita. Soalnya sejak melanjutkan perjalanan dari pos 7 sama sekali kami tidak bertemu orang lain, cuma kami berempat. Kami pun mengobrol sambil terus melanjutkan perjalanan. Ternyata mereka udah start sejak jam 7 pagi 😱😱

Tetiba suami yang udah jalan duluan di depan teriak-teriak sendiri. Lhaaa ini laki saya kenapa? Kok mendadak norak siih 😒😒
"Bun..Bun..coba liat Bun.. woohoooo" doi teriak lagi sambil nunjukin tulisan yang ada di sana 'Selamat datang di area camping dan sunrise Ghoberhoet'
Gantian saya yang teriak malah pake adegan lompat-lompat wkwkwk
Jam menunjukan angka 11.30 berarti 2,5 jam perjalanan

Di depan pos jaga kami liat motor porter dengan barang-barang kami masih di atasnya. Padahal sebelum berangkat kami sudah pesan supaya langsung pasang tendanya. Tapi ternyata si porter mau meyakinkan lagi apa benar mau ngcamp di Ghoberhoet atau mau ke pondok saladah aja? Soalnya saat itu belum ada yang ngecamp di sana. Dan biasanya memang lebih banyak yang ngecamp di pondok saladah dibanding ghoberhoet.
Suami mantap mau di ghoberhoot karena doi ngincer foto sunrise dan foto milkyway
Lokasi camping kami naik sedikit lagi dari pos jaga. Belakangnya hutan, depannya pemandangan gunung papandayan. Sunrisenya nanti langsung dari arah depan tenda 😍

Tapi ada sedikit cerita tidak mengenakkan saat kami baru sampai disini. Sakti yang jalannya memang belum stabil di jalan yang tidak rata tiba-tiba jatuh dengan pipi duluan yang mendarat dan meninggalkan lokasi gores di pipi kanannya 😞😞
Setelah shalat dan makan kami pun bersantai di dalam tenda. Angin di sana lumayan kencang karena depannya lembah.
Kikan gimana Kikan?

Tetap ga bilang capek dia 😱
Padahal setiap hari rabu saat ngajak jalan kaki ke pasar dia sering mengeluh capek.
Sekitar jam 3 sore ternyata ada pendaki lain yang datang sekitar 8-9 orang. Saya tidak tahu pasti jumlahnya. Dan mereka mendirikan 2 tenda di samping kanan tenda kami kami. Asiikkk ada temannya 😁
Lalu setelah magrib ada lagi yang datang. Saya juga tidak tau pasti ada berapa orang dan juga mendirikan 2 tenda di samping kiri tenda kami. Asiikkk tambah rame 😍
Malam tiba.. kami pun membakar api unggun. Sakti yang tidurnya kesorean, jadi sedikit telat tidur malamnya. Alhamdulillah malam itu cuaca sangat cerah. Walaupun bukan malam purnama, tetapi cahaya bulan cukup terang dan banyak bertaburan bintang.
Dan akhirnya sekitar jam setengah sembilan kikan pun mengantuk dan duluan tidur di tenda. Sakti baru tidur jam 10 malam. Tidak lama setelah itu saya dan suami pun tidur. Berkali-kali terbangun untuk mengecek kondisi anak-anak, takutnya kedinginan walaupun masing sudah tidur lengkap dengan jacket, kaus kaki dan selimut yang kami bawa. Menurut saya malam itu tidak sedingin waktu kami camping di Ranca Upas. Saya malah tidur tidak pakai kaus kaki 😁
20 November 2018
Jam 4.30 pagi di sana sudah mulai terang. Langit di depan tenda kami sudah berwarna kemerahan karena cahaya matahari yang perlahan naik. Indahhhh sekali..
Saya liat pagi itu sudah bertambah 4 tenda lagi. Ternyata ada rombongan yang sampai jam setengah satu malam. Jadi total malam itu ada 9 tenda. Rameee jugaa 😁
Hari itu, 20 November tepat ulang tahun Kikan yang ke-5. Tidak ada perayaan, tidak ada kue ulang tahun, tidak ada tiup lilin. Hanya doa dan harapan kami sebagai orang tua agar Kikan menjadi yang lebih baik lagi.
Jam 8.30 porter pun datang untuk membawa kembali barang-barang kami turun, tidak lupa nasi goreng yang kemaren sudah kami pesan. Jam 10 setelah semua beres, kami pun melanjutkan perjalanan menuju hutan mati.
Dari ghoberhoet menuju hutan mati harus melalui pondok saladah terlebih dahulu. Dari ghoberhoet ke pondok saladah sekitar 15 menit perjalanan saja.
Pondok saladah ini adalah lapangan luas yang memang sudah dijadikan camping ground sejak lama. Makanya orang lebih banyak yang camping disini dibandingkan di ghoberhood. Tapi disini tidak dapat pemandangan sunrise nya 😁
Setelah foto-foto sebentar, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata di belakang pondok saladah ini ada taman edelweis 😍. Kami pun wanti-wanti ke Kikan jangan petik apapun. Cukup nikmati saja keindahan yang ada di depan mata.
Sekitar 10 menit perjalanan kami pun tiba di hutan mati. MasyaAllah..Saya sungguh terpesona dengan keindahan alam ini.
Hutan mati ini terbentuk akibat erupsi gunung Papandayan tahun 2002 yang mengakibatkan ribuan pohon hangus terbakar dan menyisakan batang-batang bewarna hitam yang masih tertanam di tanah. Kalau Kikan bilang sih seperti ular 😁
Setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan menuju pinggir kawah, karena jalur turunnya dari pinggir kawah tersebut.
Kalau ditanya mana yang paling menantang selama perjalanan ini, jawaban saya adalah pas jalan turun ini. Jalannya menuruni tangga berbatu. Jangan tanya berapa banyak tangganya. Buanyaaakk pokoknya!
Walaupun menurun tapi tetap menguras energi. Apalagi saya harus pegangin Kikan sambil terus mengatur langkah suapaya jangan terlalu cepat. Ini beneran bikin kaki saya gemeteran. Selama perjalanan naik kemaren Kikan lebih sering jalan sendiri. Tapi pas turun, sama sekali tidak lepas dari pegangan saya.
Dan sama seperti saya, jalan turun ini juga menguras energi Kikan sepertinya karena berkali-kali dia berhenti dan bilang capek. Kami terus semangati kalau Kikan bisa, Kikan tangguh. Salah satu motivasi Kikan yaitu jajan semangka yang ada di warung di pos 7.
"Uni mau 3 ya Bun" katanya dan kembali melanjutkan perjalanan dengan semangat 😂
Setiba di pos 7 kami pun beristirahat sebentar dan menghabiskan beberapa potong semangka. Perjalanan turun ini lebih rame karena tanggal merah. Sepanjang perjalanan ada saja orang yang lihat-lihat ke suami karena menggendong sakti dan saling berkomentar.
"Itu lihat lho bayi aja udah naik gunung"
"Itu gendongannya pasti sengaja dibeli buat naik gunung"
Ga tau aja kalau itu gendongannya pinjem 😁
Dan tidak sedikit yang bertanya langsung ke saya dan suami sakti umur berapa, rewel ga di jalan?
Akhirnya jam 12.30 kami tiba di area parkir. Sakti tertidur di gendongan. Lalu suami lapor ke pos 3 kalau kami sudah kembali. Setelah istirahat dan membereskan barang-barang, sekitar jam 2 kami berangkat meninggalkan papandayan.
Bagi saya yang ke gunungnya karena keracunan hobi suami, perjalanan ini merupakan pengalaman yang benar-benar mendebarkan, apalagi mengajak anak 5 tahun dan bayi 14 bulan. Jadi maapkeun kalau emak-emak ini jadi sedikit norak yees wkwkw 😂

Bunda Kikansakti