Senin, 11 April 2016

KATA "BODOH" ITU MASIH TERINGAT

"Bodoh namanya kalo begitu nak" kata seseorang kepada kikan saat  di depan tamu kikan mengambil makanan dalam piring dan memindahkan ke piring lainnya tanpa memakannya.
saya langsung spontan meralat ucapan seseorang tadi dan mengatakan "kikan..itu tidak baik ya. kalau mau kuenya kikan makan, kalo ga mau ga usah dimainin" sambil memangkunya dan menahannya  lalu mengajaknya bermain supaya tidak lagi kembali mengulangi tingkahnya tadi, karena saya takut kalau kikan kembali mengulanginya kata-kata bodoh akan kembali diucapkan oleh orang tsb :(
Entah kenapa kata bodoh itu masih terngiang-ngiang di telinga saya sampai sekarang dan membuat hati ini menjadi sedikit terluka secara saya tidak pernah mengucapkan kata bodoh itu sama sekali. Rasanya saya tidak menerima anak saya dikatakan bodoh oleh orang. Bukan karena saya menganggap anak saya pintar, tapi dia masih berusia 2 tahun 4 bulan, masih banyak hal yang belum diketahuinya apalagi tentang norma kesopanan.
Wajarkah seorang dewasa mengatakan bodoh kepada anak yg berusia 2 tahun 4 bln?
saya tetap berpikiran positif, mungkin orang itu tidak benar - benar mencap anak saya bodoh. Tapi spontan karena sudah terbiasa mengucapkan kata itu kepada anak yg kelakuannya kurang baik (dimata orang dewasa).
Memang saya sering mendengar di lingkungan dan asal saya orang2 tua jaman dulu sering menggunakan kata bodoh kepada anak. Anak suka ngemut jari orang tua bilang "itu bodoh namanya nak", anak suka caper di depan tamu orang tua bilang "itu bodoh namanya nak", dll.
Kata2 yang sering diucapkan kepada anak adalah sugesti terhadap anak.
Tidak ada anak yg bodoh. anak terlahir kedunia ibarat kertas putih kosong. Tuliskanlah yang baik di kertas tsb maka insyaallah anak akan menjadi baik. Tapi jika kita selalu menuliskan yang buruk, keinginan kita untuk menjadikan si anak menjadi anak yang baik akan semakin jauh.